news update


Rabu, 20 Juni 2012

Tragedi Sukhoi

INILAH TRANSKRIP PERCAKAPAN PILOT
SUKHOI SUPERJET 100 : YA TUHAN APA
INI?

Satu per satu kepingan misteri penyebab
kecelakaan pesawat Sukhori Superjet 100
mulai terkuak. Faktor pilot diduga
menyumbang peran dalam kecelakaan
tersebut.

Laporan utama majalah Tempo, "Musabab
Jatuhnya Sukhoi" edisi Senin, 18 Juni 2012,
memuat wawancara Tempo dengan
seorang investigator Rusia. Dari wawancara
itu terungkap pilot sempat berteriak sesaat
sebelum pesawat menabrak.

Seorang investigator Rusia yang
mengetahui analisis sementara kotak hitam
mengatakan Yablontsev berniat melakukan
manuver setelah permintaan turunnya
disetujui menara Cengkareng. "Dia mau
terbang di celah dua puncak gunung,"
katanya. Salak punya tiga pucuk dengan
lembah-lembahnya yang curam.

Aleksandr Yablontsev pilot senior. Di
usianya yang 57 tahun, ia sudah
menerbangkan 221 jenis pesawat dengan
14 ribu jam terbang. Bekas pilot tempur ini
juga terlibat membangun Sukhoi sejak
2004. Dengan pengalaman dan keahlian itu,
kata investigator ini, Yablontsev diduga
berniat menunjukkan kecanggihan Sukhoi
kepada tamu-tamunya.

Tak paham kontur jalur ke Pelabuhan Ratu
itu, sang pilot terkejut ketika membelokkan
pesawat ke kanan justru mengarah ke
tebing Salak. Dari rekaman kotak hitam,
menurut seorang penyelidik dari Rusia,
sesaat setelah permintaan memutar
disetujui, pilot menjerit, “O Bozhe, chto eto
takoe? (Ya, Tuhan, apa ini?)” Luka tebing
akibat benturan menunjukkan Yablontsev
berniat menaikkan pesawat tapi tak cukup
jarak dan waktu buat menghindar.

Menurut Presiden IATCA I Gusti Ketut

Susila, jarak koordinat pesawat saat kontak
terakhir dengan Gunung Salak hanya 14
kilometer. Dengan kecepatan 290 knot atau
450 kilometer per jam, pilot hanya punya
waktu sembilan detik menghindari tebing.

Menurut Menteri Perhubungan E.E
Mangindaan, Yablontsev dan kopilot
Aleksandr Kochetkov mengabaikan
peringatan sistem yang berbunyi sebelas
kali--tanda pesawat menuju bahaya. Tapi
seorang petugas di Cengkareng
menyimpulkan, pemandu memiliki andil
dalam kecelakaan. "Semestinya pemandu
tak menyetujui permintaan pilot berbelok ke
kanan karena di monitor radar sebenarnya
tercantum gunung," ujarnya.

Jika saja petugas menara menyatakan
"negatif" dan memerintahkan pesawat
berbelok ke kiri, pilot punya waktu dua
menit untuk menghindari puncak gunung.
Kesibukan N yang memandu belasan
pesawat lain dalam waktu bersamaan
membuatnya tak waspada. Dalam transkrip
percakapan itu, ia tak terdengar
mengarahkan Sukhoi atau menolak
permintaan pilot. (Baca juga: Pemandu ATC
di Insiden Sukhoi Belum Bekerja Lagi)

Mulya Abdi, General Manager Senior Air
Traffic Services Soekarno-Hatta, beralasan
bahwa turun ke 6.000 kaki dan berbelok ke
kanan disetujui pemandu karena Sukhoi
berada di training area Atang Sendjaja. "Ini
daerah bersih. Pesawat minta turun ke
3.000 pun pasti disetujui," katanya.

Training area Atang Sendjaja adalah
sebuah wilayah imajiner di Bogor yang
melintang sepanjang 50 kilometer dari
Tangerang hingga Cikeas, dengan lebar
sekitar 20 kilometer. Letaknya 20 nautical
mile atau 37 kilometer dari Pangkalan
Halim. Area ini sering dijadikan tempat
latihan siswa penerbang Curug, Tangerang,
karena sepi dari lalu lintas pesawat.

Terbang di area latihan ada syaratnya.
Menurut Heruyanto Sutiyoso, dosen senior
di sejumlah sekolah penerbangan,
kecepatan maksimal di wilayah ini 250 knot.
"Dan pilot harus terbang secara visual,
bukan instrumen," ujarnya.

Ketika menabrak tebing Salak, Sukhoi
melaju 40 knot di atas batas maksimal yang
diizinkan di area latihan. "Semestinya
pemandu memberitahukan syarat-syarat
terbang di training area," kata seorang
petugas menara Cengkareng.


Begini komunikasi terakhir Sukhoi nahas itu
dengan menara Terminal East, Bandar
Udara Soekarno-Hatta, berdasarkan
rekaman yang diperoleh Tempo:

Yablontsev (Y): Tower 36801 good
afternoon, establish Radial 200 degrees
VOR ten thousand feet.

Petugas menara berinisial N (N): RA-36801
radar contact, maintain ten thousand
proceed area.

Y: Maintain level 10.000 feet 36801.

(Kala itu, jam menunjuk angka 14.24.
Sekitar 12 menit setelah Superjet 100 lepas
landas dari Pangkalan Udara Halim
Perdanakusuma, Jakarta Timur. Superjet
100 pun mengarah ke Pelabuhan Ratu.
Lokasi tujuan yang memang sudah
direncanakan sebelumnya.)

Y: Tower, 36801 request descend 6.000
feet.

(Superjet sudah dua menit mengudara di
ketinggian 10 ribu kaki.)

N: 36801, say again request.

(Yablontsev mengulangi permintaannya
untuk turun ke 1.828 meter di atas
permukaan laut.)

N: OK, 6.000 copied.

Y: Descend to 6.000 feet, 36801.

(Setelah itu, N kembali sibuk melayani 13
pilot yang meminta turun, orbit, atau naik.
Semua dia lakukan sendiri, tanpa asisten.)

Y: Tower, 36801 request turn right orbit
present position.

(Permintaan belok kanan itu diajukan
Yablontsev pukul 14.28.)

N: RA-36801 approve orbit to the right six
thousand.

(N langsung mengiyakan permintan
Yablontsev sebelum menanyakan
alasannya.)

Usai permintaan itu, tak ada lagi
komunikasi. Sekitar lima menit usai
pembicaraan itu, Sukhoi menghantam
Gunung Salak. Petugas baru sadar 24
menit kemudian. Tak ada Sukhoi pada layar
radar.

N: RA-36801...RA-36801...RA-36801...

Tiga kali Sukhoit dipanggil, tapi tak ada lagi
jawaban. Hening...

Tidak ada komentar: